Ilmuwan Ungkap Nama Manusia Sebelum Homo Sapiens - Info Kepri

Info Kepri

Info Kepri

Search This Blog

Popular Posts

Technology


Ilmuwan Ungkap Nama Manusia Sebelum Homo Sapiens

Ilmuwan Ungkap Nama Manusia Sebelum Homo Sapiens
Share it:

Ilmuwan Ungkap Nama Manusia Sebelum Homo Sapiens
Ilustrasi. Ilmuwan telah mengidentifikasi spesies yang merupakan nenek moyang langsung dari manusia, yang hidup setengah juta tahun lalu. (Foto: CNN Indonesia/Elisa Valenta Sari)

JAKARTA, Infokepri.com - Para ilmuwan telah menamai spesies baru yang mungkin merupakan nenek moyang langsung manusia modern. Nama spesies baru itu yakni Homo bodoensis, yang hidup setengah juta tahun lalu di Afrika.

Penelitian yang diunggah di jurnal Evolutionary Anthropology pada Kamis (28/10) itu, disebut dapat membantu menguraikan bagaimana garis keturunan manusia bergerak dan berinteraksi di seluruh dunia.

Meskipun manusia modern Homo sapiens adalah satu-satunya garis keturunan manusia yang masih hidup, ada spesies manusia lain disebut pernah menjelajahi Bumi.
Sebagai contoh, para ilmuwan baru-baru ini menemukan bahwa di pulau Flores pernah menjadi rumah bagi spesies Homo floresiensis yang telah punah.

Homo floresiensis dikenal sebagai spesies manusia dengan sebutan 'hobbit' karena besaran tubuhnya yang mini, menyerupai karakter dalam film Hobbit.

Merumuskan apakah fosil manusia purba sering kali terjadi dan menjadi masalah yang banyak ditentang hingga menjadi perdebatan sengit oleh para ahli.

Namun, ilmuwan lain berpendapat bahwa karena ada banyak bukti genetik baru dari Spesies Neanderthal, diprediksi spesies itu pernah kawin silang dan memiliki keturunan yang banyak.

Dalam studi baru, para peneliti menganalisis fosil manusia yang berasal dari sekitar 774.000 hingga 129.000 tahun, yang dahulu dikenal sebagai Pleistosen, kini berganti nama menjadi Chibanian.

Fosil manusia era Chibania dari Afrika dan Eurasia sering dianggap sebagai salah satu dari dua spesies, yaitu Homo heidelbergensis atau Homo rhodesiensis.

Namun kedua spesies itu sering membawa banyak pertentangan dengan definisi karakteristik yang sudah tergambarkan.

Dikutip Scitech Daily, bukti DNA baru-baru ini mengungkapkan bahwa beberapa fosil di Eropa yang dijuluki H. heidelbergensis sebenarnya berasal dari Neanderthal awal. Dengan demikian, para ilmuwan mencatat Homo heidelbergensis adalah nama yang berlebihan dalam kasus tersebut.

Meski demikian analisis terbaru dari banyak fosil di Asia Timur menunjukkan bahwa spesies itu seharusnya tak lagi disebut sebagai Homo heidelbergensis.

Banyak karakter wajah dan bagian tubuh lain pada fosil manusia Asia Timur Chibania berbeda dari yang terlihat pada fosil Eropa dan Afrika.

Selain itu, fosil Chibanian dari Afrika kadang-kadang disebut Homo heidelbergensis dan Homo rhodesiensis. Para ilmuwan juga mencatat bahwa H. rhodesiensis adalah nama yang didefinisikan dengan buruk, yang tidak pernah diterima secara luas di dunia sains.

Untuk membantu mengatasi semua kebingungan ini, para peneliti sekarang mengusulkan keberadaan spesies baru, Homo bodoensis. Penamaan itu berdasarkan hasil penelitian bagian tengkorak yang berusia 600 ribu tahun yang ditemukan di Bodo D'ar, Ethiopia, pada 1976.

Nama baru ini akan mencakup banyak fosil yang sebelumnya diidentifikasi sebagai H. heidelbergensis atau Homo rhodesiensis.

Para peneliti menyarankan bahwa Homo bodoensis adalah nenek moyang langsung dari Homo sapiens, bersama-sama membentuk cabang yang berbeda dari pohon keluarga manusia.

Mengacu pada fosil yang ditemukan di Siberia dan Tibet, Neanderthal dan Denisovans hidup di waktu yang sama dengan Neanderthal.

"Memberi nama baru untuk suatu spesies selalu kontroversial," kata rekan penulis studi Mirjana Roksandic, ahli paleoantropologi di University of Winnipeg di Kanada, seperti dikutip Live Science.

Para peneliti mengklaim tidak merunut ulang evolusi manusia. Sebaliknya, para peneliti berusaha untuk mengatur variasi yang terlihat pada manusia purba, dengan cara yang memungkinkan untuk didiskusikan terkait muasal spesies.

"Perbedaan itu dapat membantu kita memahami gerakan dan interaksi," kata Roksandic.

(cnn.indonesia.com/can)

 

Share it:

Jakarta

Post A Comment: