Warga Sebut Proyek Drainase di Depan Taman Makam Pahlawan Asal Jadi - Info Kepri -->
Trending News
Loading...
Warga Sebut Proyek Drainase di Depan Taman Makam Pahlawan Asal Jadi

Warga Sebut Proyek Drainase di Depan Taman Makam Pahlawan Asal Jadi

Warga Sebut Proyek Drainase di Depan Taman Makam Pahlawan Asal Jadi
Brikkes yang Baru Dicor Disebelah Simpang Lampu Merah RS Embung Fatimah yang Tergenang Air, Jumat (18/11/2022) (Fhoto : P.Sipayung)


BATAM, Infokepri.com
– Pembangunan proyek draenase dari hotel 01 menuju Taman makam pahlawan di Kelurahan Bukit Tempayan, Kecamatan Batuaji diduga dikerjakan asal jadi. 

Pasalnya, brikes dinding yang berada tidak jauh dari simpang lampu merah Rumah Sakit (RS) Embung Fatimah tidak rata dan tidak rapi. Sepintas kelihatan seperti retak-retak.

Hal itu seperti diungkapkan salah seorang warga setempat, berinisial Am kepada wartawan, Jumat (18/11/2022).

“ Kok dinding draenase itu tidak rapi dan tidak rata seperti kelihatan retak-retak. Kerjaannya sepertinya asal jadi, "ujar Am.

" Aneh. Kok dindingnya ngak rata. Seperti apa pengawasannya, kenapa bisa begitu, " tambahnya.
Sabar Manalu dari pihak PT Sementasi Indonusa selaku pihak kontraktor pelaksana ketika ditemui melalui WhatsAppnya Jumat (18/11/2022) mengatakan dinding yang baru dicor itu bukan retak tetapi disebabkan bekistingnya tidak rata.

Warga Sebut Proyek Drainase di Depan Taman Makam Pahlawan Asal Jadi
Dinding Brikkes yang Tidak Rapi Akibat Bekisting Tidak Rata di Sebelah Simpang Lampu Merah RS Embung Fatimah, Batu Aji, Jumat (18/11/2022) (Fhoto : P.Sipayung)

 

“ Dari foto kelihatannya bukan retak tapi bekistingnya tak rata. Besok saya lihat dulu ya,” kata Sabar Manalu melalui WhatsAppnya, Jumat (18/11/2022).

Namun Sabar Manalu enggan memberi komentar ketika dikonfirmasi mengapa bekistingnya mereka buat tidak rata.

Sementara Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Batam Wan Taufik ST MT saat dikonfirmasi melalui WhatsAppnya Jumat (18/11/2022) mengatakan akan turun mengecek jika ada ditemukan dinding yang yang retak maka pihaknya akan membongkarnya.

“ Saya akan cek nanti kalau ada dinding yang retak jika retaknya parah kami akan suruh bongkar,” katanya.

Disebelahnya tepatnya di sebelah rumah toko (Ruko) pihak kontraktor pelaksana baru saja mengecor dinding brikkes. Pantauan di lapangan brikkes yang baru dicor itu saat ini tergenang air. 

Wan Taufik mengatakan genangan air itu harus dikeringkan dengan pompa air.  Ia menyebut setiap akan dicor kondisi dasar brikkes harus kering.

“ Namanya kerja di parit iya gampang tergenang air. Tetapi sewaktu dicor di lantai brikkes itu harus dipastikan kering. Genangan air itu ada setelah pihak kontraktor mengecornya,”katanya.

Selain pengerjaan proyek itu diduga dikerjakan asal jadi, nilai pagu dari proyek draenase itu diduga di mark up.  

Berdasarkan plang proyek yang dipasang oleh pihak kontraktor, pembangunan draenase ini menelan dana sebesar Rp 6.296.591.820,-. Dikerjakan oleh kontraktor pelaksana PT Sementasi Indonusa dan konsultan pengawas CV Viteck Pratama Consultan. Tanggal kontrak 12 Mei 2022 dan masa kontrak selama 210 hari kalender.

Untuk volumenya, tidak ada dijelaskan pada plang proyek yang dipasang oleh kontraktor pelaksana.
Sabar Manalu ketika ditemui belum lama ini menjelaskan panjang dranase 320 meter dan lebarnya bervariasi ada yang 6 meter sedangkan tinggi draenase tersebut 2,30 meter. Dari 320 meter panjang draenase tersebut ada dibangun Box Culvert sebanyak 6 unit dengan panjang bervariasi ada yang 6 meter dan ada yang 4 meter.

Jika dihitung dari total anggaran yang digunakan sebesar Rp 6.296.591.820,- dengan panjang 320 meter, maka biaya untuk membangun draenase tersebut sekitar Rp 8,7 juta,- permeternya.
Sistem metoda pengerjaan draenase ini juga telah diubah dari sistem metoda awal. 

Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Batam Wan Taufik ST MT saat ditemui di ruang kerjanya belum lama ini mengakui pihaknya telah mengubah metoda kerja pengerjaan proyek tersebut. 

Sebelum diubah, pengecoran dilakukan di lokasi draenasi. Kemudian metoda pengerjaannya diubah dengan memasang brikkes. Brikkes dibentuk dengan menggunakan mal yang dibuat tidak jauh dari lokasi draenase tersebut.

“ Kita telah melakukan adendum untuk mengubah metoda system pengerjaan proyek tersebut. Walau telah mengubah metoda system kerjanya namun nilai pagu dari proyek tersebut tidak berubah tetap Rp Rp 6.296.591.820,- ,” katanya.

Ketika ditanya apakah nilai pagu proyek tersebut terlalu tinggi, Wan Taufik membantahnya dan menjelaskan nilai pagu proyek tersebut tergantung dari spesifikasi proyek. Pihaknya membayar sesuai dari jumlah brikkes yang dipasang.

“ Apa acuannya jika nilai pagu pengerjaan proyek draenase itu terlalu tinggi,” katanya.

Dikatakannya metoda itu tergantung dari kontraktornya seperti memasang Box Culvert bisa saja dicor di lokasi kerja bisa saja di cor di luar lokasi dan setelah terbentuk lalu dipasang di lokasi. 

“ Demikian halnya dengan pengerjaan draenase itu bisa dicor ditempat, bisa dengan brikkes yang penting mutu dan spesifikasi tidak diabaikan,” katanya.

Ia mengatakan sebelum metoda pengerjaan dengan memasang brikkes tersebut pihaknya sudah meminta kepastian dari konsultan.

“ Konsultan itu kita bayar untuk memberi masukan kepada kita,” katanya.

Ketika dikonfirmasi melalui telepon selulernya mengenai ukuran brikkes, Wan Taufik enggan memberi komentar dan meminta untuk datang ke kantornya.

“ Sulit saya menjelaskannya melalui telepon datang saja ke kantor saya,” katanya. (Pay)


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

>

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel