Bali di Persimpangan: Saatnya Menyambut Sensus Ekonomi 2026 dengan Serius - Info Kepri .post-body img { display: block; margin: 0 auto; max-width: 100%; height: auto; } -->

 

Bali di Persimpangan: Saatnya Menyambut Sensus Ekonomi 2026 dengan Serius

 



Penulis : Teddy Fiktorius, Guru SMA Bina Mulia Pontianak, Kalimantan Barat

“Apakah Bali akan terus hidup dari turis, atau berani menata ekonomi yang lebih kokoh?”

Pertanyaan ini harus kita jawab sekarang, bukan besok! 

Pandemi COVID-19 memberi pelajaran pahit, yakni saat wisatawan berhenti datang, Bali terpukul paling keras. Pada 2020, ekonomi Bali anjlok hingga minus 9,31%. Ini adalah kontraksi terdalam se-Indonesia (BPS Provinsi Bali, 2021).

Kini ekonomi memang mulai pulih. Tahun 2023, pertumbuhan ekonomi Bali tercatat 5,98%, melampaui rata-rata nasional 5,05% (BPS Provinsi Bali, 2024). Tetapi euforia ini harus dibaca hati-hati. 

Lebih dari 23% Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bali masih bergantung pada akomodasi, makanan, dan minuman. Transportasi serta pergudangan menyumbang 15%. Artinya, dua sektor yang menopang hampir 40% PDRB sepenuhnya bergantung pada wisatawan. Begitu ada krisis global, Bali kembali rapuh.

Masalah yang Terlihat Jelas
BPS Provinsi Bali (2024) mencatat jumlah angkatan kerja pada Februari 2024 sebanyak 2,71 juta orang. Dari jumlah itu, yang bekerja 2,66 juta orang, naik 37.990 orang dibanding Februari 2023. Peningkatan terbesar terjadi di sektor penyediaan akomodasi dan makan minum, yakni 59.790 orang. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) hanya 1,87%, terendah di Indonesia.

Sekilas ini kabar baik. Namun di balik angka rendah pengangguran, ada kenyataan pahit, yaitu sebagian besar pekerja Bali masih berada di sektor informal. Mereka rentan kehilangan penghasilan saat krisis. Pandemi sudah membuktikan itu. Angka kemiskinan Bali melonjak dari 3,78% di 2019 menjadi 4,53% pada 2020 (BPS Provinsi Bali, 2021).

Sektor pariwisata memang bangkit cepat. Wisatawan mancanegara yang datang langsung ke Bali pada April 2024 tercatat 503.194 kunjungan, naik 7,24% dari bulan sebelumnya. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang bulan itu mencapai 57,69%, jauh lebih tinggi dibanding April 2023 yang hanya 44,31%. Sepanjang 2024, total wisman mencapai 6,33 juta kunjungan, naik 20,1% dibanding 2023, bahkan melampaui kondisi 2019 (Detik, 2025).

Namun, data ini sekaligus menegaskan paradoks Bali. Bagaimana tidak?! Pertumbuhan ekonomi Bali masih sangat bergantung pada turis asing. Bila ada krisis kesehatan global, bencana, atau konflik geopolitik, angka-angka itu bisa runtuh dalam sekejap!

Harapan yang Belum Hilang
Meski begitu, peluang untuk menata ulang ekonomi Bali masih terbuka lebar. UMKM adalah salah satu kunci. Pada 2023, Bali memiliki sekitar 460 ribu UMKM yang menyerap lebih dari 97% tenaga kerja (BPS Provinsi Bali, 2023). Jika UMKM diperkuat, mereka bisa menjadi benteng ketahanan ekonomi yang tidak mudah runtuh.

Transformasi digital juga memberi harapan baru. Santoso (2022) mencatat digitalisasi dapat meningkatkan akses pasar UMKM hingga tiga kali lipat dalam lima tahun. Bayangkan produk kerajinan Bali, kuliner tradisional, atau karya seni yang tidak hanya dijual di kios pinggir jalan, tetapi juga laris di marketplace global. Bali bisa mengembangkan ruang kolaborasi berbasis teknologi digital (creative digital hub) sebagai pusat kolaborasi seniman, UMKM, dan wirausahawan muda.

Di sektor pertanian, peluang juga besar. Meski kontribusi pertanian Bali hanya 12,41% terhadap PDRB (BPS Provinsi Bali, 2024), teknologi bisa mengubah wajah pertanian. Precision farming (pertanian presisi) dengan sensor, drone, dan Internet of Things terbukti mampu meningkatkan hasil hingga 30% sambil menjaga kelestarian lahan (Yulianto, 2021). Pertanian Bali tidak boleh dibiarkan tertinggal karena ketahanan pangan adalah pondasi ketahanan ekonomi.

Solusi yang Bisa Dijalankan
Pertama, perkuat basis data. Banyak usaha mikro, usaha rumah tangga, dan bisnis digital di Bali yang tidak tercatat. Tanpa data akurat, kebijakan hanya akan seperti menembak dalam gelap. Sensus Ekonomi 2026 akan memetakan semua unit usaha, besar maupun kecil, formal maupun informal. Data inilah yang akan menjadi kompas pembangunan.

Kedua, diversifikasi ekonomi. Bali harus mulai mengurangi ketergantungan pada pariwisata dengan mendorong pertanian modern, perikanan, energi terbarukan, dan industri kreatif. Diversifikasi tidak berarti meninggalkan pariwisata, melainkan menyeimbangkan pilar ekonomi.

Ketiga, perlindungan sosial yang adaptif. Pekerja informal perlu jaring pengaman. Bali bisa membentuk resilience fund (dana ketahanan) berbasis kontribusi pemerintah, pelaku usaha besar, dan komunitas. Dana ini akan sangat berguna saat krisis.

Keempat, investasi pada SDM. Pendidikan vokasi untuk bidang teknologi, pertanian digital, dan industri kreatif harus diperluas. Generasi muda Bali memiliki potensi besar, hanya perlu ekosistem yang mendukung.

Mengapa Sensus Ekonomi 2026 Krusial
Sebagian orang mungkin meremehkan sensus. Lantas bertanya, apa gunanya? Jawabannya tegas! Tanpa data, kita buta. Sensus Ekonomi 2026 adalah kesempatan untuk memperbaiki peta jalan pembangunan Bali. Data lengkap tentang UMKM, industri kreatif, dan pertanian akan memberi dasar kuat bagi kebijakan.

Kita sering mengeluh kebijakan tidak tepat sasaran. Tapi jarang disadari, kebijakan hanya setepat data yang mendasarinya. Sensus inilah kesempatan kita memperbaiki itu. Negara-negara yang sukses keluar dari jebakan monokultur (kondisi ketika suatu negara terlalu bergantung pada satu sektor atau satu komoditas utama untuk menggerakkan ekonominya) selalu memulainya dari data. Korea Selatan setelah krisis 1997 adalah contoh nyata. Mereka melakukan survei menyeluruh, lalu membangun strategi diversifikasi. Kini mereka kuat bukan karena pariwisata, tapi karena industri kreatif dan teknologi.

Bali bisa mengikuti jejak itu. Tetapi syaratnya jelas! Warga harus berpartisipasi aktif dalam Sensus Ekonomi 2026. Saat petugas datang, berikan data yang benar. Ini bukan sekadar angka, melainkan fondasi pembangunan lima hingga sepuluh tahun ke depan.

Ajakan yang Mendesak
Mari kita jujur. Bali tidak bisa terus bergantung pada turis. Jalan ke depan harus lebih beragam, lebih tangguh, dan lebih adil. Sensus Ekonomi 2026 adalah pintu masuk ke arah itu.

Ajakan ini bukan basa-basi. Saat petugas mendata, sambutlah dengan serius. Data yang Anda berikan adalah investasi untuk masa depan Bali.

Tanpa data, Bali tetap rapuh. Dengan data, Bali bisa menulis babak baru. Dari pulau wisata yang rentan menjadi pulau dengan ekonomi yang tangguh, hijau, dan berdaulat.

Pertanyaannya kembali pada kita. Apakah Bali hanya akan menjadi etalase rapuh, atau rumah kokoh bagi warganya? 

Jawabannya ada di sensus dan ini di tangan kita!



Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel