Indonesia di Persimpangan : Ikut Ekonomi Hijau atau Jadi Penonton - Info Kepri .post-body img { display: block; margin: 0 auto; max-width: 100%; height: auto; } -->

Indonesia di Persimpangan : Ikut Ekonomi Hijau atau Jadi Penonton

 


Oleh: Niningtyas Rahayuningsih, S.Pd., M.E – Dosen Ekonomi Syariah Universitas Siliwangi

Dunia ekonomi global sudah berubah, tetapi tidak semua negara siap mengakuinya. Ada yang sudah bergerak cepat, ada yang masih ragu, dan ada pula yang diam di tempat seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Padahal perubahan ini sedang berlangsung secara nyata dan akan menentukan siapa yang bertahan dan siapa yang tersingkir dalam satu hingga dua dekade ke depan.

Dulu kekuatan ekonomi ditentukan oleh besarnya sumber daya alam, murahnya tenaga kerja, dan kemampuan produksi massal. Namun sekarang ada satu variabel baru yang perlahan menjadi penentu utama dalam perdagangan global: karbon. Bukan lagi sekadar isu lingkungan, karbon sudah berubah menjadi “aturan main” baru dalam ekonomi dunia.

Negara-negara maju mulai menerapkan standar yang lebih ketat terhadap emisi. Produk yang dihasilkan dengan jejak karbon tinggi tidak lagi hanya dianggap kurang ramah lingkungan, tetapi juga dianggap lebih mahal secara ekonomi ketika masuk ke pasar mereka. Mekanisme seperti pajak karbon dan penyesuaian batas karbon membuat produk “kotor emisi” semakin tidak kompetitif. Artinya sederhana: kalau tidak bersih, maka akan mahal, dan kalau mahal, maka akan kalah.

Di tengah perubahan besar ini, Indonesia berada di posisi yang rumit. Di satu sisi, Indonesia memiliki kekuatan ekonomi yang tidak kecil: sumber daya alam melimpah, pasar domestik besar, serta basis industri berbasis komoditas yang sudah lama menopang pertumbuhan. Namun di sisi lain, struktur ekonomi yang masih bergantung pada energi fosil dan industri beremisi tinggi membuat Indonesia rentan terhadap perubahan aturan main global.

Masalahnya bukan hanya soal lingkungan. Ini sudah masuk ke wilayah inti ekonomi: daya saing, investasi, dan akses pasar. Ketika dunia mulai menilai produk berdasarkan jejak karbon, maka biaya produksi menjadi tidak hanya soal efisiensi, tetapi juga soal emisi. Negara atau industri yang tidak mampu menekan emisi akan menghadapi biaya tambahan yang pada akhirnya membuat mereka kalah bersaing.

Ekonomi hijau sering kali dipersepsikan sebagai beban atau biaya tambahan. Padahal dalam realitas global, ekonomi hijau justru sedang menjadi mesin pertumbuhan baru. Triliunan dolar investasi mengalir ke sektor energi terbarukan, kendaraan listrik, teknologi baterai, hingga industri berbasis efisiensi energi. Negara yang lebih cepat beradaptasi akan menjadi pemain utama dalam rantai pasok baru ini, sementara yang lambat hanya menjadi pasar.

Di titik ini, dunia sebenarnya sedang melakukan “pengaturan ulang” dalam sistem ekonomi global. Ini bukan sekadar transisi energi, tetapi pergeseran pusat kekuatan ekonomi. Siapa yang menguasai teknologi bersih, rantai pasok mineral kritis, dan industri rendah emisi, akan menguasai masa depan ekonomi. Sebaliknya, negara yang tetap bertahan pada model lama akan semakin sulit masuk ke dalam sistem baru yang sedang terbentuk.

Indonesia sebenarnya tidak kekurangan modal untuk ikut dalam perubahan ini. Potensi energi terbarukan besar, sumber daya mineral strategis tersedia, dan posisi geografis sangat menguntungkan. Namun potensi tidak akan berarti apa-apa tanpa transformasi nyata. Tanpa perubahan arah kebijakan industri, tanpa percepatan transisi energi, dan tanpa keberanian meninggalkan ketergantungan lama, Indonesia berisiko tertinggal dalam arus besar ekonomi global.

Inilah posisi Indonesia saat ini: di persimpangan. Satu arah menuju ekonomi hijau yang kompetitif, modern, dan terintegrasi dalam rantai pasok global baru. Arah lain adalah bertahan dengan model lama yang semakin tertekan oleh standar internasional dan perubahan pasar.

Dan pada akhirnya, pilihan ini tidak lagi bisa ditunda. Karena dunia tidak menunggu siapa yang siap. Dunia hanya bergerak, dan hanya mereka yang bergerak lebih cepat yang akan bertahan.

Pertanyaannya kini menjadi semakin tajam: Indonesia ingin menjadi pelaku utama dalam ekonomi baru, atau hanya menjadi penonton ketika peta kekuatan ekonomi dunia sudah berubah tanpa kita?



Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel